Home Berita Umum PEMANFAATAN UMBI-UMBIAN SEBAGAI ALTERNATIF PEMENUHAN KEBUTUHAN KARBOHIDRAT SELAIN DARI BERAS OLEH IR DARMINTO BADAN KETAHANAN PANGAN PROVINSI JATIM

Online

We have 3 guests online

Radio Streaming

Winamp

Vooting

Acara Kesukaan
 
PEMANFAATAN UMBI-UMBIAN SEBAGAI ALTERNATIF PEMENUHAN KEBUTUHAN KARBOHIDRAT SELAIN DARI BERAS OLEH IR DARMINTO BADAN KETAHANAN PANGAN PROVINSI JATIM PDF Print E-mail
Written by admin   
Tuesday, 08 January 2013 13:47

PEMANFAATAN UMBI-UMBIAN SEBAGAI ALTERNATIF PEMENUHAN KEBUTUHAN KARBOHIDRAT SELAIN DARI BERAS.

 

I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Kelompok pangan umbi-umbian sudah dikenal oleh sebagian besar masyarakat kita, baik sebagai pangan pokok maupun kudapan. Umbi-umbian sebagai pangan pokok dikonsumsi oleh masyarakat di daerah sentra produksi beras, dan dimakan sehari-hari pada masa paceklik berlangsung. Namun dengan berkembangnya ketersediaan beras yang cukup di berbagai daerah dengan harga yang terjangkau, pola konsumsi masyarakat tersebut berubah dan memilih beras. Kelompok pangan umbi-umbian sebagai pangan pokok dan kudapan juga menghadapi tantangan yang tidak ringan dari pangan impor, di mana pangan tersebut diolah dengan teknologi yang lebih canggih dari pada teknologi pengolahan umbi-umbian yang biasa dilakukan oleh masyarakat terutama di pedesaan.

Untuk memposisikan pangan umbi-umbian sejajar dengan pangan pokok dan kudapan yang dikenal masyarakat pada saat sekarang, adalah dengan mengangkat citra umbi-umbian melalui promosi dan perbaikan teknologi pengolahan termasuk pengemasannya sehingga mudah dikenal di pasar dan diakses jika dibutuhkan. Upaya ini sulit diwujudkan apabila hanya dilakukan oleh petani/produsen umbi-umbian karena skala usahanya kecil dan kemampuannya terbatas baik pengetahuan, modal dan ketrampilannya. Untuk itu, pemerintah perlu memfasilitasi dengan pemberdayaan teknis dan ekonomis, serta mewujudkan hubungan kemitraan dengan swasta yang bergerak dalam bisnis pangan.

Peningkatan konsumsi umbi-umbian sebagai pangan alternatif, cukup penting dalam mewujudkan penganekaragaman pangan karena ketersediaannya cukup banyak di berbagai daerah dan jenisnya beragam. Jenis umbi-umbian yang sudah dikenal dan dibudidayakan, antara lain: ubi kayu, ubi jalar, talas, garut, ganyong, huwi, gembili, gadung, suweg dan iles-iles. Untuk ubi kayu dan ubi jalar sudah diusahakan cukup luas di berbagai daerah, sedangkan umbi lainnya hanya dibudidayakan di beberapa daerah dan biasanya merupakan pangan spesifik lokasi daerah yang bersangkutan.

Penganekaragaman pangan adalah proses pemilihan pangan yang tidak tergantung kepada satu jenis bahan pangan saja, tetapi terhadap macam-macam bahan mulai aspek produksi, pengolahan, distribusi hingga konsumsi pangan di tingkat rumah tangga. Subsistem konsumsi dalam system ketahanan pangan berfungsi memanfaatkan pangan yang memenuhi kecukupan gizi, keamanan dan halal dalam upaya untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produktivitas. Jelasnya, pemenuhan kebutuhan pangan bagi seluruh penduduk melalui pendekatan angka kecukupan gizi (AKG) bukannya berdasarkan kebiasaan makan (food habit) ataupun ketertarikan (food preference). Pola konsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang merupakan tuntutan yang harus dipenuhi dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

Berbicara konsumsi pangan, sampai saat ini konsumsi masyarakat Jawa Timur masih didominir oleh beras sebagai sumber karbohidrat, sedangkan konsumsi protein dan lemak masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu sebagai altrnatif pemenuhan kebutuhan karbohidrat tersebut, maka sudah waktunya untuk menerapkan pola penganekaragaman pangan melalui pemanfaatan sumberdaya pangan lokal dengan memanfaatkan umbi-umbian,

b. Tujuan

Kebijakan pengembangan tanaman umbi-umbian, merupakan salah satu bentuk kegiatan nyata (real action) dari berbagai alternatif kegiatan penganeka- ragaman pangan yang bertujuan untuk:

1. Memenuhi kebutuhan gizi tubuh khususnya atas karbohidrat yang akan diubah menjadi energi sebagai penopang utama bagi tubuh untuk melakukan segala aktivitasnya. Dengan demikian pemenuhan karbohidrat tidak harus berasal dari beras saja, dan hal ini sekaligus merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras.

2. Memanfaatkan potensi sumberdaya bahan pangan lokal yang ada. Keragaman pangan di negara kita pada dasarnya sudah sangat tinggi. Untuk bertahan hidup dan menjalankan fungsi kehidupan, manusia dapat memenuhi kebutuhan pangan yang tersedia di sekitarnya, bukan harus berasal dari sawah saja (padi, jagung, kedelai dll), tetapi dapat juga berasal dari pekarangan, kebun ataupun tegal (ternak, ikan, umbi-umbian, sayur mayur dan buah-buahan)

II. KONSUMSI PANGAN

Subsistem konsumsi berfungsi dalam pemanfaatan pangan yang memenuhi kecukupan gizi, keamanan dan halal dalam upaya untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produktivitas. Subsistem ini memperlihatkan baik aspek informasi kandungan gizi bahan makanan (kecukupan energi dan protein) dan juga pola pangan yang tentunya akan berdampak pada tingkat kesehatan masyarakat. Faktor lain yang sangat berpengaruh dalam hal ini adalah peran ibu rumah tangga dalam mengatur pola makan keluarga dan pola asuh anak.

Berdasarkan angka Susenas Tahun 2005 manunjukkan bahwa tingkat dan kualitas konsumsi pangan masyarakat di Jawa Timur tahun 2005 semakin baik bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini dilihat dari keragaman konsumsi pangan penduduk Jawa Timur dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) tahun 2005 sebesar 77,8, sedangkan tahun 2002 sebesar 71,0. Selain itu, sumbangan energi kelompok padi-padian terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada tahun 2005 cukup besar yaitu 57,9 %, pada hal proporsi idealnya 50 %. Sumbangan energi kelompok pangan yang masih jauh dari proporsi idealnya adalah; kelompok pangan hewani, kelompok sayur dan buah, serta kelompok umbi-umbian. Hal ini menggambarkan bahwa pola konsumsi pangan penduduk Jawa Timur belum memenuhi kaidah kecukupan gizi yang dianjurkan yaitu pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Untuk lebih jelasnya rata-rata konsumsi pangan tingkat rumah tangga di Jawa Timur dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel: Rata-rata konsumsi pangan tingkat rumah tangga tahun 2002 dan tahun 2005.

No

Kelompok Pangan

Tahun 2002

Tahun 2005

PPH Nasional 2020

Gram/Kap/Hr

Energi

(Kkal)

%AKE #)

Gram/Kap/Hr

Energi

(Kkal)

%AKE ##)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

1.

Padi-padian

283,1

1129,7

51,4

283,5

1,139

57

50

2.

Umbi-umbian

69,1

78,6

3,6

53,5

61

3,1

6

3.

Pangan hewani

61,6

100,4

4,6

73,1

134

6,7

12

4.

Lemak dan minyak

21,1

190

8,6

20,2

180

9

10

5.

Buah/Biji Berminyak

10,7

58,7

2,7

10,4

57

2,9

3

6.

Kacang-kacangan

33,8

98

4,5

32,1

93

4,7

5

7.

Gula

30,6

111,1

5,1

26,9

97

4,9

5

8.

Sayur dan buah

197,4

80,8

3,7

203

86

4,3

6

9.

Lainnya

50,8

41,7

1,9

42,3

38

1,9

3

Jumlah

1,889

85,0

1,886

94,3

100

Sumber: Angka Susenas 2002 dan 2005 Jawa Timur, BPS (diolah BKP Prop Jatim, 2006)

Keterangan : #) Angka Kecukupan Energi (AKE) = 2200 Kkal/Kap/Hr

##) Angka Kecukupan Energi (AKE) = 2000 Kkal/Kap/Hr

III. KANDUNGAN GIZI UMBI-UMBIAN

Beras, sebagai makanan pokok, memang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Khususnya unsur karbohidrat yang diubah menjadi energi memang diperlukan sebagai penopang utama bagi tubuh untuk beraktivitas. Berbagai tanaman umbi-umbian pada umumnya banyak mengandung karbohidrat dan kalori yang memang lebih rendah dibanding dengan beras, tetapi pada unsur gizi lainnya punya keunggulan tersendiri. Untuk lebih jelasnya kandungan gizi umbi-umbian dibanding beras dapat diliahat pada tabel berikut ini.

Tabel 2: Kandungan Gizi dari beberapa Umbi-umbian tiap 100 gram bahan.

NO

Bahan Pangan

Energi

(kal)

Protein

(g)

Lemak

(g)

Karbohidrat

(g)

Vit A

(mg)

Vit C

(mg)

Air

(g)

1.

Beras Giling

360,00

6,80

0,70

78,90

0,00

0,00

13,00

2.

Tepung Gaplek

363,00

1,10

0,50

88,20

0,00

0,00

9,10

3.

Tepung Garut

355,00

0,70

0,20

85,20

0,00

0,00

13,60

4.

Ubi Jalar Putih

123,00

1,80

0,70

27,90

60,00

22,00

68,50

5.

Ubi Jalar Merah

123,00

1,80

0,70

27,90

7.700,00

22,00

68,50

6.

Ubi Jalar Kuning

136,00

1,10

0,40

32,30

900,00

35,00

40,00

7.

Huwi

101,00

2,00

0,20

19,80

0,00

9,00

75,00

8.

Gadung

101,00

2,00

0,20

23,20

0,00

9,00

73,50

9.

Gembili

95,00

1,50

0,10

22,40

0,00

4,00

75,00

10.

Ganyong

95,00

1,00

0,10

22,60

0,00

10,00

75,00

11.

Kentang

83,00

2,00

0,10

19,10

0,00

17,00

77,80

12.

Suweg

69,00

1,00

0,10

15,70

0,00

0,00

56,10

13.

Talas

98,00

1,90

0,20

23,70

20,00

4,00

73,00

Sumber: Direktorat Gizi Depkes RI (1981)

IV. KENDALA-KENDALA dan SOLUSINYA

Kendala-kendala yang ditemui dalam pengembangan pangan dari umbi-umbian, anatara lain:

1. Sikap kebiasaan makan yang cenderung mengatakan bahwa dirinya belum makan kalau tidak makan nasi, sekalipun sudah makan non nasi.

2. Adanya sikap ketertarikan yang cenderung menyukai makanan tertentu terutama yang popular dan mudah serta cepat penyiapannya

3. Adanya perasaan rendah diri/kurang bergengsi manakala tidak makan nasi.

4. Terbatasnya pangsa pasar pangan umbi-umbian.

5. Komoditas umbi-umbian kurang/tidak mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan volumnuous/kemeruahan.

6. Teknologi pengolahan pangan dan pengemasan yang masih sangat sederhana, mengakibatkan tidak tahan lama disimpan dan berubah cita rasanya.

Solusi atau upaya pemecahan masalah yang dihadapi dalam hal ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk permasalahan yang berhubungan dengan perasaan, seperti kebiasaan makan, ketertarikan dan rendah diri harus diubah menjadi positif yaitu dengan meningkatkan kesadaran untuk tidak perlu lagi merasakan masalah tersebut. Misalnya meningkatkan kesadaranan bahwa prestasi dan pretise seseorang bukan ditentukan oleh apa yang dimakan oleh orang yang bersangkutan, melaikan dari apa yang dicapai dari hasil kerja nyata orang tersebut.

2. Pengembangan pangsa pasar dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan promosi baik melalui pameran, media massa, media cetak (folder, brosur, buket, bulletin dll), perluasan jaringan dengan peningkatan volume maupun kontinyuitas produk.

3. Peningkatan nilai ekonomis dan pengurangan sifat volumnuous/kemeruahan dapat dilakukan dengan mengolah bahan makanan umbi-umbian tersebut menjadi bahan pangan setengah jadi (tepung) ataupun sekalian menjadi pangan olahan.

4. Peningkatan teknologi dan bahan pengemasan dengan menggunakan aluminium foil sehingga penampilannya lebih menarik dan lebih tahan lama untuk disimpan.

V. STRATEGI DAN KEBIJAKAN

Strategi dan kebijakan yang diambil dalam rangka menyikapi pengembangan pangan dari umbi-umbian, antara lain:

a. Mendorong dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan lahan non sawah (pekarangan, kebun, tegal) secara optimal dengan tanaman umbi-umbian sebagai cadangan pangan alternatif.

b. Mendorong tumbuhnya industri pangan olahan non beras skala rumah tangga di pedesaan, khususnya yang berbahan baku umbi-umbian, melalui pemberian kredit bunga rendah.

c. Memberikan fasilitasi kepada Penyuluh Pertanian terhadap pentingnya pangan non beras non terigu.

d. Melakukan kerjasama dengan pemangku kepentingan terkait (PHRI, PKK, BKKBN, DIKNAS dan Industri Pangan Olahan).

e. Mendorong anak sekolah dapat mengkonsumsi pangan sehat non beras non terigu, melalui jalan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat agar masuk dalam kurikulum di sekolahnya.

f. Mengembangkan gerakan makan non beras non terigu pada setiap acara rapat atau pertemuan.

g. Melakukan sosialisasi dan kampanye diversifikasi pangan.

h. Mengganti satu kali makan nasi dalam sehari dengan bahan pangan non beras dan non terigu.

Dalam rangka penyusunan program dan kegiatan yang menyangkut pangan bersumber dari umbi-umbian, Pemerintah Propinsi Jawa Timur melibatkan beberapa pemangku kepentingan seperti industri pangan olahan skala rumah tangga, kelompok pangan olahan dan perguruan tinggi. Hal ini dilakukan dengan maksud agar program dan kegiatan yang disusun benar-benar dapat menyentuh kebutuhan riel masyarakat dan memiliki cakupan sasaran yang cukup luas sesuai dengan ketersediaan anggaran.

Percepatan pelaksanaan program dan kegiatan antara lain menggunakan pendekatan promosi, untuk menunjang keberhasilan yang diinginkan melalui media massa seperti Televisi dengan memanfaatkan jam tayang dan durasi yang dianggap efektif dan efisien. Selain itu juga melalui media cetak dengan produk berupa brosur, folder/leaflet, poster dan naskah untuk siaran radio.

VI. PENUTUP

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan konsumsi pangan akibat laju pertumbuhan penduduk, sedangkan di sisi lain luas lahan pertanian semakin berkurang akibat beralih fungsi kegunaannya dari pertanian ke non pertanian, maka penganeka ragaman pangan khususnya pemanfaatan pangan dari umbi-umbian merupakan hal yang mutlak harus kita lakukan.

Surabaya, Mei 2008

Kelompok Jabatan Fungsional

BKP Prop Jatim

Last Updated on Thursday, 02 May 2013 04:50
 
Radio Pertanian Wonocolo Surabaya Jawa Timur
Design by Purnomo Powered by Matrix Group